Kemuning, lalu Candi Cetho

18 October, 2008 by penginyongan

Pohon kemuning, selain kamboja, di daerah saya berasal, berasosiasi dengan kuburan. Simak misalnya bait pertama lirik Ebiet G Ade ketika mengantarkan ayahandanya pergi: “dan pohom kemuning // akan segera kutanam // suatu saat kelak // akan jadi peneduh”. Karena batangnya yang bercabang secara seimbang, ketika kecil dulu saya sering menggunakannya sebaga pagak plintheng (rangka ketapel).

Di Karanganyar, Kemuning adalah perkebunan teh di lereng Gunung Lawu. Kemuning, Selain Tawangmangu, menjadi tujuan wisata populer. Menurut saya, pemandangannya lebih indah. Perkebunannya sangat luas, mengikuti kontur pegunungan lawu. Patut dicoba untuk dikunjungi, rasanya. Kalau pernah ke Puncak, seperti itulah bandingannya.

Kemuning masih dalam satu situs dengan Candi Cetho, salah satu candi Hindu yang ada di Jawa. Hanya saja, kalau hendak ke sana, harus diketahui bahwa jalannya memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. Terutama tikungan diikuti tanjakan dengan sudut elevasi lebih dari 45 derajat. Sehingga, kendaraan harus betul-betul tangguh. Banyak cerita bahwa mobil baru sekalipun harus menyerah sebelum sampai ke lokasi candi.

Kami — Acha, istri dan saya — sampai di sana lebih karena ketidaktahuan medan dan nekat. Bayangkan saja, masih mengenakan uniform batik sekolah istri saya karena menghadiri halal bihalal, kami terdampar di candi cetho inilah. Saya hanya mengikuti jalan untuk terus dan terus dan terus, sampai akhirnya di pelataran candhi. Setelah sampai dan melihat ke bawah, masya Allah, kami ngeri sendiri, seolah ada di puncak dunia. Yang tak habis pikir justru memikirkan kendaraan kami yang demikian tua ternyata terasa ringan saja menapak naik sampai di sini. Hitler memang hebat! Baru sampai, Acha dan Mamahnya sudah ribut bagaimana turunnya nanti.

Memasuki kawasan candi, yang diperhatikan Acha adalah sepasang calon pengantin yang tengah mengambil gambar prewedding. Tak henti-hentinya Acha berkomentar. Gaunnya puanjang banget ya Ma. Atau, ih, mbaknya cantik ya. Dan semacamnya. Sampai-sampai kami harus menggamit tangannya agar Acha tidak berhenti terlalu lama memperhatikan prosesi itu.

Menapaki pelataran ke pelataran, yang didapat lebih banyak pasangan yang sedang duduk berhimpitan. Saya maklum. Perjuangan menuju tempat ini sudah berat. Tak apalah mereka istirahat sambil duduk dengan pasangannya masing-masing.

Melempar pandangan ke luar kawasan candi, rasanya memang betul-betul sudah berada di puncak bumi. Langit begitu dekat. Awan bisa digapai. Sejauh mata memandang, yang ada hanya bawah.

it is really not a car. it is a volkswagen!!

Setelah menikmati sate kelinci, maka pulanglah. Diiring rasa was-was dan segepok doa, turunan curam berkelok ditundukkan pelan-pelan. Pada sudut elevas ekstrim, Acha menutup wajah dengan rok mengusir ketakutan. Memang, saya, bersama kendaraan tua ini, telah berkali-kali melewati medan susah seperti perkebunan Tambi di Parakan, atau jalur Banjarnegara-Pekalongan serta Sarangan. Namun, ini masih yang paling mengesankan. Sampai sekarangpun kalau mengingatnya masih ayub-ayuben.

Badan

9 October, 2008 by penginyongan

Badan. Uh, senengé.

Catetan nggo badan tahun kiyé:

1. Mbak Acha bisa puasa! Luar biasa. Ora nana kesenengan sing lewih gedhé timbang ngerti nek anaké wadon nyong sing egun kelas siji wis bisa puasa sedina med. Gusti Allah, moga-moga Panjenengan ngersakena anaké nyong mau dadia bocah sing solékhah. Anéhé, Mbak Acha justru téyéng puasa tutug justru nang telung dina terakhir, seuwisé tekan umahé mbahé. Bisa dadi didukung hawa sing sejuk adhem, dadi ora krasa ngelak. Pas egun nang Jatén, pancen nék awan panasé ngenthang-enthang. Ditambah, pancén lingkungan ya mendukung. Nang nggoné mbahé, bocak cilik ya pada wis puasa, dadi Mbak Acha kegawa. Béda karo nang Jatén, wong sing wis tuwa bé aké sing pada ora puasa. Intiné, jan seneng banget anak wadon téyéng mulai puasa. Alhamdulillah…

2. Ora prepegan. Prepegan kuwé bécér meng pasar tuku apa-apa nggo badan. Gemiyén, prepegan dadi wektu sing paling istimewa: meng pasar, ditukokena klambi anyar, tuku iwak, tuku mercon. Prepegan dadi istimewa, sebab mung wektu kuwé dijék meng pasar tuku klambi anyar. Liyané prepegan, tangéh lamon tuku klambi anyar, sandal anyar. Angger wis tuku, abenn sore dideleng. Ning éman-éman arep nganggo.
Beda karo bocah siki. Tuku klambi anyar méh aben minggu. Saben metu meng mol, biyung bocah ana baén sing dituku. Ya pancen jamané wis béda si ya, arep kepriwé maning.

Bego

14 July, 2008 by penginyongan

Sabtu, 12 Juli kemarin saya datang ke Wisma Antara untuk sebuah peluncuran buku. Tentu saya memiliki dua buku yang diluncurkan bersamaan itu, “Manusia Komunikasi, Komunikasi Manusia” dan kumpulan cerita pendek “Penyombong Kelas Satu”. Saya juga membeli dua buku kumpulan cerita pendek Kompas tahun 2007 dan 2005-2006 di counter penerbit Gramedia yang ada pada acara itu.

Memasuki dhuhur, saya meninggalkan keempat buku itu dan jaket — pemberian kolega, manajer pemasaran Medco Energy di Sumatera Selatan — di ballroom yang masih penuh orang. Saya berfikir, tidak mungkinlah ada yang akan mengambil.

Seusai shalat, saya kembali. Dan barang-barang itu sudah tidak ada. Ya sudah. Saya tidak menyesalinya. Yang bikin dongkol adalah, niat untuk membaca cerpen di kereta nanti malam harus batal. Perjalanan kereta delapan jam jadi tidak asyik lagi.

***

Di Gambir, malamnya, saya menunggu keberangkatan Argo Lawu tambahan jam 21.15. Sembari menunggu, saya menyempatkan makan malam dulu. Di meja sebelah tempat saya, tergeletak sebuah handphone Motorola merah. Hp yang mahal. Saya mau mengambilnya untuk diserahkan kepada satpam atau waitress, namun ada seseorang yang duduk di meja sebelahnya lagi. Saya kasih tau kalau ada hp tertinggal. Dia katakan, itu hp kawannya satu rombongan. Saya percaya saja. Lalu diambilnya, dan buru-buru pergi.

Tidak lama kemudian, ada seorang bapak dan anak perempuannya datang tergopoh-gopoh mencari hp dengan ciri-ciri yang dibawa orang tadi. Tapi mau bagaimana?

***

Saya jadi berfikir, kok ada ya orang yang mau mengambil yang bukan haknya. Lebih jauh saya berfikir, saya ini naif atau bego ya?

Hari Pertama

14 July, 2008 by penginyongan

Hari pertama selalu pantas untuk dikenang. Saya masih mengingat hari pertama memiliki sepeda hadiah sunatan dulu, sebagaimana masih mengenang hari pertama masuk asrama setamat SD duapuluhtiga tahun lalu. Saya juga masih ingat hari pertama masuk kelas untuk mengajar mata kuliah “Perkembangan Teknologi Komunikasi” yang kok ya masih saja kemringet meski sudah mempersiapkan untuk hari itu berhari-hari sebelumnya, sebagaimana juga masih mengingat betul hari pertama menjadi Bapak ketika anak pertama lahir. Dan bukan hanya hari pertama, malam pertama pun pantas untuk dikenang, bukan?

Dan ini adalah hari pertama Mbak Acha sekolah. Baginya, tampaknya ini adalah hari yang istimewa. Sepatu, tas, buku, pulpen, pensil, karet penghapus, dosgrip (?) sudah ia persiapkan semenjak ia tahu diterima di MI Muhammadiyah Karanganyar (Dari sekian ratus pendaftar, ia ranking 16 dalam ujian masuk dulu). Makanya, hari ini, ia bangun pagi-pagi benar. Shalat subuh, mandi, sarapan, berdandan, dan… tidak sabar menunggu mobil jemputan sekolah. O lala…

Bagi saya, ini juga hari istimewa. Hari ini menyadarkan bahwa ternyata saya sudah semakin tua. Anak-anak sudah pada sekolah, bersaing dengan bapaknya yang juga sedang sekolah. Meski, ini bukan hari pertama saya sadar bahwa saya sudah makin tua itu…

Anakku, belajarlah yang baik. Fahami dengan benar hidup ini. Kamu pasti nanti akan jauh lebih hebat dari Bapakmu…

Menjadi Ayah

27 June, 2008 by penginyongan

“Anda dihargai sebagai seorang pria bukan karena kemampuan Anda menghamili perempuan; karena orang bodohpun bisa melakukannya. Kemampuan itu tidak lantas membuat Anda menjadi seorang ayah. Keberanian untuk membesarkan anaklah yang membuat Anda menjadi seorang Ayah”.

Itu adalah kata-kata Barrack Obama — yang akan saya berikan padanya hak suara saya kalau saja saya punya hak pilih di Amerika Serikat; tidak seperti pada pilgub Jawa Tengah 22 Juni lalu yang tidak satupun calon menarik minat saya untuk memilih. Kata-kata itu menggetarkan hati saya sebagai seorang ayah dengan dua putri, dan tidak pernah serius mempertanyakan keberanian yang saya miliki untuk membesarkan mereka berdua.

Anak saya, rasanya, tidak pernah tahu bahwa kadang ayahnya harus pergi untuk mencari uang buat makan mereka. Dan mereka mereka memang tidak perlu memahami. Yang dia tahu adalah bahwa dia butuh ayah untuk menakut-nakuti temannya (tak kanda’ke bapaku lho!), mengantarnya ketika kepengin berenang, atau apapun yang lain. Dan, akhir-akhir ini, saya merasa menjadi bagian dari “semua laki-laki yang bisa menghamili perempuan saja” itu.

Makanya, betapa senang ketika saat ini lebih banyak punya waktu untuk menjadi ayah yang “berani membesarkan anak” itu.

Bapak

11 June, 2008 by penginyongan

Almarhum Bapak memiliki visi yang jauh melampaui kediaman kami yang terisolasi. Pandangannya tentang masa depan sangat jernih. Kecintaannya pada ilmu tidak bisa dikalahkan oleh apapun, apalagi hanya keterbatasan uang. Saya sangat jelas tentang hal ini.

Tentang buku, misalnya. Bapak menandai setiap peristiwa dengan membeli sebuah buku. Kalau membuka-buka koleksi buku peninggalan Bapak, di back-cover pasti tertulis kapan buku itu dibeli, dan dalam peristiwa apa. Misalnya ada sebuah buku tertanggal sekian, “… sunat”. Itu berarti dibeli ketika salah satu dari kami disunat.

Kadang-kadang Bapak menuliskan juga harganya. Ada sebuah terjemahan AlQur’an yang diterbitkan tahun 1950an yang karena seringnya dibolak balik menjadi terlihat sangat kumal. Saya rasa itu salah satu bacaan favorit Beliau. Tapi ini yang membuat hati saya ternganga: ada tulisan dengan pulpen tinta 19 kilogram beras. Gusti Allah, Bapak mendapatkannya dengan menukar 19 kilogram beras!! Lihatlah settingnya pada masa itu, di mana beras adalah suatu kemewahan. Di keluarga besar kami, salah satu guyon favorit adalah tentang madhang sega beras dan nginum wedang legi — untuk menggambarkan betapa mewahnya makan nasi dan minum bergula. Dan Bapak rela mengorbankan bentuk kemewahan semacam itu demi sebuah buku!

Dulu di tempat kami tidak ada toko buku. Sebenarnya ada, toko buku Aneka namanya. Namun yang dijual hanya alat tulis, stationery, majalah dan buku-buku kristen. Jadi tidak mungkinlah Bapak membeli buku di sana. Karenanya, Bapak membeli buku melalui seseorang di kaki lima atau memesan melalui seseorang.

Karena datangnya di emperan, maka buku yang dijual juga buku-buku yang, gemana ya mengatakannya. Begini: beberapa buku yang dibeli di sana adalah seperti Mujarobat Kubro, Primbon Basa Jawi dan semacamnya. Membeli buku semacam itu tampaknya lebih untuk menghilangkan dahaga pengetahuan, tentang apa saja.

Nah, buku-buku yang “bermutu” tampaknya lebih banyak didapat dari seorang sahabat Beliau, namanya Pak Muqoddas, BA. Saya mengingat namanya, juga gelarnya, karena saya sering diajak ke sana, dan di atas pintu rumahnya ada gravir namanya tadi.

Mengagumkan juga bahwa Bapak berlangganan dua majalah: Pandji Masyarakat dan Suara Muhammadiyah. Ketahuan kan, kalau Bapak adalah aliran politiknya adalah Masyumi, dan gerakannya Muhammadiyah. Karena tidak mungkin diantar, maka Bapak yang mengalah untuk secara rutin mengambil ke tempat Pak Muqoddas tadi.

Jadi, dari kecil, kami jadi terbiasa membaca dua majalah itu. Dari sana pula saya mengenal nama-nama seperti Nurkholish Madjid, Fachri Ali, Jalaludin Rahmat, Marwah Daud Ibrahim dan sebagainya.

Salah satu tokoh yang paling dikagumi Bapak adalah HAMKA. Bapak mengoleksi apapun yang berhubungan dengan HAMKA. Mulai dari Tafsir Al Azhar yang ditulis ketika HAMKA dipenjara dan menjadi salah satu bacaan favorit Anwar Ibrahim, novel-novelnya sampai kaset kuliah subuh. Juga Pandji Masyarakat itu. Karenanya, sejak SD saya sudah membaca Tenggelamnya Kapal Van der Wijk dan Merantau ke Deli berkat kekaguman Bapak pada HAMKA. (Untuk mendownload sebahagian ceramah HAMKA, cobalah di http://ikider.de/index.php?option=com_content&task=view&id=56&Itemid=54)

Sekarang, salah satu cara paling indah mengenang Bapak adalah dengan membaca buku-bukunya yang tersimpan rapi di lemari buku beliau.

Jam

10 May, 2008 by penginyongan

Saya jarang sekali memakai jam tangan. Ribet saja rasanya. Di samping, bukankan di mana-mana kita bisa melihat jam? Kalau sedang butuh tahu jam berapa, saya lebih suka melihatnya di HP (Mana yang lebih sering Anda lakukan: merogoh HP di kantong atau melolosnya dari sarung, atau melirik jam tangan Anda?). Kalaupun tidak, lihatlah, di setiap ruang ada jam. Di bis juga. Di bar pojok kanan bawah layar monitor pun demikian. Maka, saya jarang sekali memakai jam tangan.

Meskipun, saya sebenarnya punya beberapa jam tangan. Kalau ndak salah ada 7. Kalau ditambah jam saku yang berjumlah dua — dan dua-duanya oleh-oleh pulang haji, seluruhnya ada 9 alat pengukur laju waktu. Sebagian besar dari jam tangan itu saya tidak tahu harganya, karena saya tidak membelinya. Misalnya yang oleh-oleh ketika ada yang umroh. Ndak sopan to kalau bertanya, Mbekayu, kiyé regane pira ? Jadi, meski ada beberapa, saya jarang sekali memakai jam tangan.

Sebagian kisah dari jam-jam itu adalah sebagai berikut.

Ada yang saya beli sebagai kenang-kenangan ketika saya menerima rapelan gaji sebagai CPNS. Itu tahun 1998. Bulannya Mei. Rapelan itu cukup besar bagi saya — yang masih bujangan. Maka saya bingung, hendak diapakan uang itu. Karena hari berikutnya saya ke Jogja, maka uang itu dibawa serta. Akhirnya saya memutuskan untuk membeli dua hal: satu set tafsir Abdullah Yusuf Ali, dan jam tangan ini. Harganya saya lupa; gold-plated. Dan saya jarang memakainya.

Ada jam yang saya beli berpasangan; satunya untuk istri saya. Jadi kembar — meski tentu yang untuk istri besarnya lebih kecil (bingung? — inilah uniknya bahasa indonesia jawa). Jam itu saya beli ketika, karena sedang di luar kota, dan judeg, jalan-jalan ke sebuah pusat perbelanjaan. Ini sebenarnya bukan kebiasaan saya. Hanya saja, entah kerasukan apa, saya melakukannya. Di sana, tiba-tiba masuk ke sebuah outlet jam tangan, dan membelinya begitu saja. Itung-itung, kasih hadiah buat istri tercinta OK juga kan. Dan, jam itu, saya jarang memakainya.

“Koleksi” jam terakhir yang saya miliki adalah sebuah pemberian dari kolega di Palembang. Mereknya Expedition. Dikirim ke kos beberapa waktu yang lalu. Untuk menguasai setting dan fungsi jam itu, saya mempelajari manualnya sampai satu malam. Modelnya anak muda banget. Dan, saya bahkan belum pernah memakainya.

Di antara jam-jam itu, yang paling bernilai adalah jam milik almarhum Bapak.

Bapak dulu selalu menggunakan jam tangan. Tapi, mungkin karena harganya murah, atau membelinya sudah bekas, Bapak jadi bolak balik ke tukang servis jam. Saya tau betul langganannya: Servis Arloji Abdulrahman. Tempatnya di depan Polres Banjar. Bukan sekali dua beliau mengajak ke sana, ketika saya masih kecil dulu.

Beberapa hari setelah Bapak berpulang, saya memasuki kamar beliau, dan melihat barang-barang yang tergeletak di meja. Yang paling menarik adalah ada beberapa jam tangan di sana. Namun hanya satu yang masih hidup: CASIO. Saya menimangnya; sambil mengingat ketika dulu diajak ke tukang servis arloji tua Pak Abdulrahman itu. Ada satu jam yang sudah tua, dan berkali dibawanya. Mereknya Titus. Setelah sekian lama di kamar itu, akhirnya saya memutuskan untuk merawat dua jam Bapak: Titus dan CASIO. Yang satu sudah lecek, kumal. Mungkin sudah bertahun-tahun tidak disentuh. Yang satu, saya rasa, adalah yang terakhir beliau kenakan. Bismillah… saya bertekad menyimpannya. Untuk mengenang, untuk memghormati beliau.

Casio itu beberapa waktu yang lalu mati. Dan, sabtu tadi, saya membawanya ke reparasi arloji. Bukan ke Pak Tua Abdulrahman (entah apakah sekarang masih hidup atau tidak, karena umurnya jelas lebih tua dari Bapak), tapi di sebuah tempat di Salemba.

Saya jarang sekali memakai jam tangan. Kalaupun saya sedang ingin memakainya, maka yang dikenakan adalah Casio peninggalan Bapak itu.

Bapak
di surga waktu berhenti
yang tetap laju
adalah senyummu
dan doa-doa kami

Nonton Bioskop

7 May, 2008 by penginyongan

“Aku akan selalu mengingatmu”
“Itulah yang membuatku abadi — immortal”

***

Saya masih mengingat dengan jelas pertama kali diajak nonton bioskop — bukan layar tancep. Saat itu saya kelas 5 SD, tahun 1983. Yang mengajak Ibu. Filmnya G30S/PKI. Cahyana Theatre, Banjarnegara. Setelah itu, tidak pernah lagi. Kecuali layar tancep kalau ada film BKKBN atau hajatan.

Lalu menjadi agak maniak setelah hampir selesai sekolah menengah di Solo. Kalau pas hari libur, bisa dua kali nonton. Bioskop di Kartasura semuanya di jelajah tuntas. Mulai Surya Theater, Kartasura Theater dan Mandala. Itu sampai tahun 1991.

Mulai kuliah, mulai menjadi sufi — suka film maksudnya. Bioskop di Solo semuanya pernah dicoba. Yang ecek-ecek: PJT (Palur Jaya Theatre), Cemani Theater, Rama Thater, Dedy Theater, UP, Kartika Theater, yang menengah: President Theater, Star Theater, Fajar Theater. Yang cineplex: Solo Theater, Atrium Theater dan Studio Theater. Kecuali yang terakhir, sekarang tinggal kenangan. Ada satu yang baru, Grand Theater di Solo Grand Mall.

Kuliah sampai memiliki anak, bisa dikatakan rata-rata seminggu sekali nonton bioskop. Setelah punya anak, itu berarti sekitar lima tahun, tidak pernah lagi.

***

Beberapa hari yang lalu, kami tiba-tiba berfikir untuk menonton film lagi. Mempertimbangkan waktu, kami menonton yang masih menjadi box office di Amerika, film yang pertama mempertemukan Jacky Chan dan Jet Lee: The Forbidden Kingdom. Resensi film ini ditulis di KOMPAS minggu kemarin.

Cuplikan di awal posting ini adalah dialog dari film itu; tentang rasa hormat saya rasa.

Pohon di Rumah Kami (1)

28 April, 2008 by penginyongan

Rumah kami kecil saja. Tipe 36. Jadi, bisa lah dibayangkan betapa kecilnya. Padahal kami berdua dulu dibesarkan di dalam kehangatan rumah orang-orang desa di pedalaman Jawa yang sangat khas: luas dan berpekarangan. Jadi, tentu saja ada nuansa ‘rumah’ yang hilang yang telah terbangun bertahun-tahun sejak kami kecil.

Di antara yang hilang itu adalah gemericik air yang jatuh di terasering sawah, kecipak ikan di kolam, dan rindang pepohonan. Istri saya, yang besar di bebukitan, sangatlah kehilangan hamparan hijau sejauh mata memandang.

Nah, kami mencoba membayar kehilangan itu dengan memanfaatkan sisa-sisa lahan kami untuk hijau. Di dalam rumah, kami menyediakan sedikit ruang terbuka untuk kolam, di mana hujan bisa jatuh menimpa. Di pojok depan rumah, masih adalah sedikit ruang untuk beberapa pohon. Well, tidak patut kan menyebutnya taman? Di atas, kami bahkan membuat semacam green house, agar di sana kami bisa menaruh pohon-pohon kecil.

Di antara pohon di rumah kami adalah sebatang bonsai.

Kami mulai memeliharanya pada 26 Desember 2003, didapat secara tidak sengaja dari salah satu kolektor di Solo Barat Daya. Ketika kami dapat, umurnya baru baru 3 tahun. Tapi masih kecil (lhah, kan bonsai). Bonsai ini adalah pohon kawistabatu.

Karena sekian lama kami lebih banyak memanfaatkan waktu untuk yang lain — istri saya tentu lebih menikmati waktu dengan Si Kecil, sementara saya, ah — maka kami sampai-sampai hampir lupa bahwa kami memiliki bonsai itu.

Kemarin kami mendapati bonsai itu tidak karuan. Entah berapa lama sudah tidak dipruning, sehingga daun-daunnya meranggas liar. Bentuk batangnya juga tidak jelas lagi. Tahu kan, secara rutin, untuk mendapatkan bentuk yang sempurna, arah batang harus ditrain. Dan seterusnya. Intinya, kami merasa sangat bersalah dengan si bonsai yang merana, yang sudah 8 tahun bersama kami ini.

Itu mengapa seharian, hari ini, kami mencoba melakukan dress-up, sekaligus mengganti media tanam yang sama sekali, nampaknya, tidak lagi bernutrisi. Kami sibuk mencari pasir malang dan srinthil — bola-bola kotoran embek.

Untunglah, bonsai kami masih tetap seja kecil.

Ngeblog kang lapmobar

18 April, 2008 by penginyongan

Ngeblog rika wis ngerti artine. Lapmobar? Lapangan motor mabur, airprot, eh, airport. Nah, tulisan kiyè digawè nang lapmobar soekarno-hatta, terminal 2f, starbucks coffee. Maèn mbok?

Dadi dina kiyè, kaya biasanè, arep lunga meng Palembang. Schedule, halah, jadwalè mangkat jam 15.45. Pas check in diomongi nèk mengko boarding jam 15.25. Lhah siki tembè jam 14.05. Dadi egun ana wektu. Mau mangkat tes jemuahan. Kang Gambir jam 13.00, numpak damri. Ngapa ya ngentèni sejam?

Biasanè si angger awakè agi madan ngethok-ngethok, cokan rèplèksi. Ning siki agi ora patia krasa kesel. Angger rèplèksi malah mengko njerit-njerit, lha jenthikè sing wingi kecepit lawang agi ngemu getih dipèjèt-pèjèt, malah bisa ngorong-orong; ngisin-isinena.

Akhirè ya kuwè, meng starbucks. Asalè mau tembè sarapan jam 11, dadi ègun wareg. Siki sing penting ngopi karo udud-ududan.

Mbukak laptop — demenan nomer 3 — lan ngecèk koneksi hotspot. Jebul ana telu sing terdetèksi: Centrin, 3Com lan Indosatnet. Pertamanè tek jajal Centrin. Pas mbukak Opera — kiyè browser favoritku siki — jebul Centrin njaluk mbayar. Walah, jaman semenè ngenèt koh mbayar. Prèi!!!

Tek jajal 3Com. Nah, kiyè tembè maèn, langsung ngacir. Wush…

Wis ah, arep mbukaki layèl (layang èlèktronik).