Saya jarang sekali memakai jam tangan. Ribet saja rasanya. Di samping, bukankan di mana-mana kita bisa melihat jam? Kalau sedang butuh tahu jam berapa, saya lebih suka melihatnya di HP (Mana yang lebih sering Anda lakukan: merogoh HP di kantong atau melolosnya dari sarung, atau melirik jam tangan Anda?). Kalaupun tidak, lihatlah, di setiap ruang ada jam. Di bis juga. Di bar pojok kanan bawah layar monitor pun demikian. Maka, saya jarang sekali memakai jam tangan.
Meskipun, saya sebenarnya punya beberapa jam tangan. Kalau ndak salah ada 7. Kalau ditambah jam saku yang berjumlah dua — dan dua-duanya oleh-oleh pulang haji, seluruhnya ada 9 alat pengukur laju waktu. Sebagian besar dari jam tangan itu saya tidak tahu harganya, karena saya tidak membelinya. Misalnya yang oleh-oleh ketika ada yang umroh. Ndak sopan to kalau bertanya, Mbekayu, kiyé regane pira ? Jadi, meski ada beberapa, saya jarang sekali memakai jam tangan.
Sebagian kisah dari jam-jam itu adalah sebagai berikut.
Ada yang saya beli sebagai kenang-kenangan ketika saya menerima rapelan gaji sebagai CPNS. Itu tahun 1998. Bulannya Mei. Rapelan itu cukup besar bagi saya — yang masih bujangan. Maka saya bingung, hendak diapakan uang itu. Karena hari berikutnya saya ke Jogja, maka uang itu dibawa serta. Akhirnya saya memutuskan untuk membeli dua hal: satu set tafsir Abdullah Yusuf Ali, dan jam tangan ini. Harganya saya lupa; gold-plated. Dan saya jarang memakainya.
Ada jam yang saya beli berpasangan; satunya untuk istri saya. Jadi kembar — meski tentu yang untuk istri besarnya lebih kecil (bingung? — inilah uniknya bahasa indonesia jawa). Jam itu saya beli ketika, karena sedang di luar kota, dan judeg, jalan-jalan ke sebuah pusat perbelanjaan. Ini sebenarnya bukan kebiasaan saya. Hanya saja, entah kerasukan apa, saya melakukannya. Di sana, tiba-tiba masuk ke sebuah outlet jam tangan, dan membelinya begitu saja. Itung-itung, kasih hadiah buat istri tercinta OK juga kan. Dan, jam itu, saya jarang memakainya.
“Koleksi” jam terakhir yang saya miliki adalah sebuah pemberian dari kolega di Palembang. Mereknya Expedition. Dikirim ke kos beberapa waktu yang lalu. Untuk menguasai setting dan fungsi jam itu, saya mempelajari manualnya sampai satu malam. Modelnya anak muda banget. Dan, saya bahkan belum pernah memakainya.
Di antara jam-jam itu, yang paling bernilai adalah jam milik almarhum Bapak.
Bapak dulu selalu menggunakan jam tangan. Tapi, mungkin karena harganya murah, atau membelinya sudah bekas, Bapak jadi bolak balik ke tukang servis jam. Saya tau betul langganannya: Servis Arloji Abdulrahman. Tempatnya di depan Polres Banjar. Bukan sekali dua beliau mengajak ke sana, ketika saya masih kecil dulu.
Beberapa hari setelah Bapak berpulang, saya memasuki kamar beliau, dan melihat barang-barang yang tergeletak di meja. Yang paling menarik adalah ada beberapa jam tangan di sana. Namun hanya satu yang masih hidup: CASIO. Saya menimangnya; sambil mengingat ketika dulu diajak ke tukang servis arloji tua Pak Abdulrahman itu. Ada satu jam yang sudah tua, dan berkali dibawanya. Mereknya Titus. Setelah sekian lama di kamar itu, akhirnya saya memutuskan untuk merawat dua jam Bapak: Titus dan CASIO. Yang satu sudah lecek, kumal. Mungkin sudah bertahun-tahun tidak disentuh. Yang satu, saya rasa, adalah yang terakhir beliau kenakan. Bismillah… saya bertekad menyimpannya. Untuk mengenang, untuk memghormati beliau.
Casio itu beberapa waktu yang lalu mati. Dan, sabtu tadi, saya membawanya ke reparasi arloji. Bukan ke Pak Tua Abdulrahman (entah apakah sekarang masih hidup atau tidak, karena umurnya jelas lebih tua dari Bapak), tapi di sebuah tempat di Salemba.
Saya jarang sekali memakai jam tangan. Kalaupun saya sedang ingin memakainya, maka yang dikenakan adalah Casio peninggalan Bapak itu.
Bapak
di surga waktu berhenti
yang tetap laju
adalah senyummu
dan doa-doa kami