Pohon kemuning, selain kamboja, di daerah saya berasal, berasosiasi dengan kuburan. Simak misalnya bait pertama lirik Ebiet G Ade ketika mengantarkan ayahandanya pergi: “dan pohom kemuning // akan segera kutanam // suatu saat kelak // akan jadi peneduh”. Karena batangnya yang bercabang secara seimbang, ketika kecil dulu saya sering menggunakannya sebaga pagak plintheng (rangka ketapel).
Di Karanganyar, Kemuning adalah perkebunan teh di lereng Gunung Lawu. Kemuning, Selain Tawangmangu, menjadi tujuan wisata populer. Menurut saya, pemandangannya lebih indah. Perkebunannya sangat luas, mengikuti kontur pegunungan lawu. Patut dicoba untuk dikunjungi, rasanya. Kalau pernah ke Puncak, seperti itulah bandingannya.
Kemuning masih dalam satu situs dengan Candi Cetho, salah satu candi Hindu yang ada di Jawa. Hanya saja, kalau hendak ke sana, harus diketahui bahwa jalannya memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. Terutama tikungan diikuti tanjakan dengan sudut elevasi lebih dari 45 derajat. Sehingga, kendaraan harus betul-betul tangguh. Banyak cerita bahwa mobil baru sekalipun harus menyerah sebelum sampai ke lokasi candi.
Kami — Acha, istri dan saya — sampai di sana lebih karena ketidaktahuan medan dan nekat. Bayangkan saja, masih mengenakan uniform batik sekolah istri saya karena menghadiri halal bihalal, kami terdampar di candi cetho inilah. Saya hanya mengikuti jalan untuk terus dan terus dan terus, sampai akhirnya di pelataran candhi. Setelah sampai dan melihat ke bawah, masya Allah, kami ngeri sendiri, seolah ada di puncak dunia. Yang tak habis pikir justru memikirkan kendaraan kami yang demikian tua ternyata terasa ringan saja menapak naik sampai di sini. Hitler memang hebat! Baru sampai, Acha dan Mamahnya sudah ribut bagaimana turunnya nanti.
Memasuki kawasan candi, yang diperhatikan Acha adalah sepasang calon pengantin yang tengah mengambil gambar prewedding. Tak henti-hentinya Acha berkomentar. Gaunnya puanjang banget ya Ma. Atau, ih, mbaknya cantik ya. Dan semacamnya. Sampai-sampai kami harus menggamit tangannya agar Acha tidak berhenti terlalu lama memperhatikan prosesi itu.
Menapaki pelataran ke pelataran, yang didapat lebih banyak pasangan yang sedang duduk berhimpitan. Saya maklum. Perjuangan menuju tempat ini sudah berat. Tak apalah mereka istirahat sambil duduk dengan pasangannya masing-masing.
Melempar pandangan ke luar kawasan candi, rasanya memang betul-betul sudah berada di puncak bumi. Langit begitu dekat. Awan bisa digapai. Sejauh mata memandang, yang ada hanya bawah.
Setelah menikmati sate kelinci, maka pulanglah. Diiring rasa was-was dan segepok doa, turunan curam berkelok ditundukkan pelan-pelan. Pada sudut elevas ekstrim, Acha menutup wajah dengan rok mengusir ketakutan. Memang, saya, bersama kendaraan tua ini, telah berkali-kali melewati medan susah seperti perkebunan Tambi di Parakan, atau jalur Banjarnegara-Pekalongan serta Sarangan. Namun, ini masih yang paling mengesankan. Sampai sekarangpun kalau mengingatnya masih ayub-ayuben.




